Tampilkan postingan dengan label iptek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label iptek. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Januari 2013

Konvergensi Tempo dengan New Media, Alternatif di Tengah Pembredelan


Di abad ke-21 seperti sekarang ini, tekhnologi semakin berkembang seiring dengan kebutuhan akan informasi yang semakin meningkat. Internet sebagai bentuk perkembangan tekhnologi, dengan mudah diakses kapan saja dan di mana saja. Perkembangan ini mempengaruhi segala aspek kehidupan manusia. Tak terkecuali di bidang jurnalistik. Persaingan dalam bisnis media massa dewasa ini tak lepas dari perkembangan tekhnologi tersebut. Media massa yang pada awal perkembangannya hanya menggunakan tulisan tangan, kemudian berkembang menjadi media cetak dan elektronik. Saat ini, dengan adanya internet sebagai new media, para pebisnis media massa turut memanfaatkan fasilitas internet sebagai sarana publikasi hasil karya jurnalistiknya.

Banyak media konvensional baik cetak maupun elektronik yang melakukan konvergensi dengan new media. Hal ini dilakukan karena berbagai motivasi, salah satunya agar mampu mengikuti perkembangan zaman, sesuai dengan keinginan pasar (konsumen). Seperti yang telah disinggung sebelumnya, hadirnya internet dengan segala kemudahan untuk mengakses informasi, membuat masyarakat tak lagi hanya tergantung pada media cetak dan elektronik seperti televisi, radio, majalah, koran, dsb. Masyarakat memiliki alternatif baru untuk memilih berita yang ingin didapatnya. Kenyataan ini yang membuat kebanyakan media cetak dan elektronik seakan wajib melakukan konvergensi dengan new media untuk memenuhi keinginan khalayak.

Konvergensi dengan new media ini juga dilakukan oleh Tempo. Majalah pertama yang tidak memiliki afiliasi dengan pemerintah itu pertama kali terbit pada 27 Februari 1971 (sumber lain megatakan pertama kali terbit pada April 1971, ada juga yang megatakan 6 Maret 1971). Dengan modal awal dari Yayasan Jaya Raya milik pengusaha Ciputra, digawangi oleh para seniman dan wartawan berpengalaman yang keluar dari tempat kerja sebelumnya, seperti Ekspress, Kompas, dan lainnya. Dalam perjalanannya, Tempo sering mendapat teguran dari berbagai pihak karena kekeritisan yang dimuat dalam beritanya. Bahkan beberapa kali ‘dimatikan’ oleh pemerintah orde baru saat itu. Namun disini penulis tidak membahas tentang sejarah terbentukya Tempo serta bagaimana kronologi pembredelan-pembredelan itu secara rinci, penulis lebih memfokuskan pada konvergensi dengan new media yang dilakukan Tempo.

Berbeda dengan kebanyakan media konvensional yang melakukan konvergensi dengan new media karena motif ekonomi, justru sejarah awal Tempo melakukan konvergensi dengan new media untuk mempertahankan idealisme . Berawal ketika 21 Juni 1994 Tempo kembali dibredel. Penyebab pelarangan terbit majalah Tempo ini tidak pernah jelas. Namun menurut kabar yang beredar, bahwa Menteri Penerangan saat itu, Harmoko, mencabut Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) Tempo karena berita tentang impor kapal perang dari Jerman. Berita itu dianggap membahayakan 'stabilitas negara'. Laporan utama membahas keberatan pihak militer terhadap impor oleh Menristek BJ Habibie.

Untuk mendapatkan SIUPP kembali, kali ini pemerintah memberikan syarat yang berat. Jika pembredelan-pembredelan sebelumnya memberi syarat terbit kembali dengan sangat mudah, hanya bertanda tangan di secarik kertas, kali ini keluarga Presiden Soeharto yang diwakili Hasyim Djojohadikusumo, adik Prabowo Subianto, dalam penjelasannya kepada Erick Samola (Salah satu orang kepercayaan  Yayasan Jaya Raya yang turut mengelola Tempo) di sebuah pertemuan di hotel memberikan syarat: berita Tempo harus diketahui oleh mereka (Keluarga Presiden Soeharto), pemimpin redaksi harus ditentukan oleh mereka, dan mereka bisa membeli saham Tempo.

Syarat tersebut oleh jajaran pemimpin Tempo ditolak. Mereka (jajaran pemimpin Tempo) lebih rela Tempo tidak pernah terbit lagi dari pada harus bersembunyi dibalik ketiak pemerintah. Untuk mengatasi pembredelan ini, Tempo memiliki alternatif lain. Pada 6 Maret 1996, Tempo meluncurkan Tempo Interaktif melalui www.tempo.co dengan hasil liputan perdana yang berjudul “Mengapa Timor?Mengapa Tommy?”, yang merupakan majalah digital pertama di Indonesia. Dengan  beredar di dunia maya, dan aturan SIUPP tidak menjangkau internet, maka Tempo Interaktif lolos dari pemberedelan, namun tetap saja mendapat cap ilegal dari pemerintah. Pada saat itu memang belum banyak masyarakat yang mengakses internet. Akibatya, Tempo Interaktif tidak mampu menujukkan taringnya bagi Indonesia. Berbeda dengan ketika Tempo masih terbit sebagai majalah mingguan yang kian lama semakin diminati masyarakat karena idealisme dan independensinya.

Namun masyarakat yang melek internet tak tinggal diam. Tempo Interaktif masih memiliki pembaca fanatik. Ialah para aktivis mahasiswa yang giat mengunduh artikel di www.tempo.co lalu mencetaknya untuk disebarluaskan. Tempo Interaktif menjadi populer di kalangan mahasiswa saat itu. Namun tetap saja berbeda dengan majalah Tempo, versi online ini hanya bermodalkan semangat. Tak jarang amunisi juga kembang kempis. Karena Tempo Interaktif kekurangan wartawan, beberapa aktivis pers kampus pun diangkat menjadi reporter. Memang saat pemerintahan orde baru, ketika media konvensional kesulitan untuk mendapatkan SIUPP, pers kampus menjadi media alternatif yang independen untuk menjalankan fungsi kontrol sosial.

Angin segar menghampiri media massa Indonesia seiring dengan runtuhnya rezim Soeharto. Angin segar ini juga dirasakan Tempo. Presiden BJ Habibi mencabut pembredelan Tempo dan mengijinkannya untuk terbit kembali. Perkembangan Tempo begitu pesat. Pada 12 September 2000, Tempo menerbitkan Tempo Megazine, yakni majalah mingguan berbahasa Inggris. Lalu mendirikan koran Tempo pada 2 April 2001.

Seiring perkembangannya, konvergensi Tempo dengan new media dimaksudkan untuk sarana promosi. Sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya. Perkembangan tekhnologi dan kebutuhan informasi menuntut media konvensional melakukan konvergensi dengan new media untuk bisa bertahan. Saat ini Tempo juga melakukan demikian. Situs www.tempo.co saat ini mencakup berita yang ada di majalah Tempo, Tempo Megazine, dan koran Tempo. Namun tulisan yang dimuat dalam rubrik majalah di situs tersebut tidak lengkap. Untuk melanjutkan membaca, khalayak harus berlangganan terlebih dahulu, lalu login dengan Identitas yang telah didaftarkan sebelumnya, tentu saja tidak gratis untuk mendaftar. Hal ini sengaja dilakukan agar pembaca penasaran dan akhirnya membeli atau berlanggan majalah/koran Tempo.

Seperti berita yang dimuat dalam majalah Tempo edisi 12-18 November, laporan khusus membahas “Soedirman Seorang Panglima, Seorang Martir”. Ulasan yang disajikan dalam www.tempo.co tidak begitu lengkap. Yang disajikan hanya sebagian ulasan yang tentu saja membuat pembaca penasaran untuk melanjutkan membaca. Untuk membaca secara rinci, dalam web tersebut, pembaca disarankan membaca majalah Tempo edisi 12-18 November, laporan khusus membahas “Soedirman Seorang Panglima, Seorang Martir”. Ulasan di majalah Tempo tentang Soedirman disajikan secara rinci.

Selain sebagai sarana promosi, konvergensi Tempo dengan new media juga untuk memudahkan pembaca memperoleh berita. Hal ini bisa dilihat dengan adanya majalah Tempo dalam bentuk digital. Namun untuk bisa membacanya, khalayak harus berlangganan terlebih dahulu dengan biaya tertentu. Bahkan, Tempo meyediakan fitur khusus untuk pengguna iPad dan Android untuk memudahkan pembaca mengakses berita.

Tak dapat dipungkiri, hampir seluruh media konvensional saat ini telah melakukan konvergensi dengan new media untuk bisa bertahan. Sebuah pilihan yang sepertinya memang harus dilakukan ditengah gempuran arus perkembangan tekhnologi. Kebutuhan akan informasi yang kian tinggi, dengan banyaknya sumber-sumber informasi yang bisa didapat membuat khalayak bisa menentukan sendiri informasi apa yang ingin didapatnya. Dengan begitu, melakukan konvergensi berarti juga membuat sumber informasi semakin banyak, yang berarti memperbanyak pilihan khalayak dan kesempatan untuk membaca media tersebut.


Referensi:
1.      Majalah Tempo edisi 12-18 November, laporan khusus membahas “Soedirman Seorang Panglima, Seorang Martir”
4.      http://www.tempo.co
7.      Berbagai diskusi dengan rekan-rekan Pers Mahasiswa

Jumat, 19 Maret 2010

Dag Dig Dug Ujian Nasional

Ujian Nasional dari tahun ke tahun memang selalu menjadi momok menakutkan bagi kalangan pelajar, tantunya siswa-siswi yang akan mengikuti ujian nasional (yang ga ikut ya ga usah takut,hhehe). Ujian Nasional diadakan oleh pemerintah untuk mengetahui dan mengukur tingkat penguasaan materi pelajaran tertentu secara nasional.


Dan tak terasa sebentar lagi Ujian Nasional tahun ajaran 2009/2010 akan dilaksanakan. Tentunya hal ini membuat para pelajar Indonesia semakin was-was. Siswa-siswi makin giat mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian ini. Baik dengan cara yang halal ataupun melalui jalan pintas, seperti mencari bocoran jawaban atau 'ngrepek',hehehe.


Banyak pro dan kontra mengenai ujian nasional. Ujian Nasional merupakan prestasi bagi sebuah sekolah jika siswa-siswi di sekolah tersebut mampu meraih nilai bagus. Namun sebaliknya jika ada siswa yang tidak lulus akibatnya adalah siswa tersebut bisa stress, gila, bahkan gantung diri.


Tidak adil memang jika pelajaran yang kita dapatkan selama 3 tahun hanya diukur dalam beberapa mata pelajaran dalam beberapa hari saja.


Bagi kawan-kawan yang akan menghadapi ujian nasional saya doakan semoga lulus dan mendapatkan nilai yang maksimal...amiiinn..
jangan lupa tinggalkan komen juga bila anda ingin lulus,,,hehehe..

Meningkatkan Rangking Alexa Blog Anda

Setelah lama Saya berguru ke mbah google,akhirnya saya menemukan artikel yang berisi tentang cara untuk meningkatkan ranking Alexa.Sekaligus untuk meningkatkan ranking blog Anda,sebagai blog yang patut di perhitungkan.

Apa itu 
Alexa? Alexa merupakan sebuah web informasi yang memberikan ranking bagi sebuah web, tampaknya Alexa bukan karena itu saja sangat dikenal dan diperhitungkan para web surfer tidak hanya diluar seperti di Amerika namun disini juga menjadi semacam tolak ukur untuk menentukan traffic dari sebuah website. Lalu apakah yang dimaksud dengan Alexa Ranks? Alexa Ranks adalah ranking yang diberikan oleh Alexa web dimana ranking tersebut berasal dari total jumlah pengunjung Unique Alexa Toolbar. Hmmm..jadi Alexa itu semacam toolbar ya? Kalau boleh saya bilang sih bisa jadi semacam itu, karena kalau mau ngecek popularitas sebuah web ke webnya langsung kan agak ribet jadi Alexa membuat semacam toolbar yang memudahkan untuk pengecekan sehingga kita bisa mengetahuinya secara langsung. Selain itu banyak faktor yang mempengaruhi Alexa dalam memberikan ranking. Jika Anda  menggunakan Alexa Toolbar dan terinstall pada komputer Anda, toolbar tersebut akan menunjukkan ranking dari web kita maupun web lain pada waktu kita browsing maupun surfing di internet. Toolbar tersebut menunjukkan popularitas dari website yang bersangkutan.

Dan ini tips dari Saya :

  • Membuat Artikel Tentang Alexa.Cara ini memiliki nilai lebih untuk blog Anda,karena dengan cara ini tante Alexa merasa di manjakan.Dan jangan lupa membuat kategori tersendiri untuk meletakan postingan-postingan tentang tante Alexa.Contoh nama kategorinya : Alexa,Alexa Ranking,Alexa Traffic Rank,dan sebagainya.Intinya ada nama "Alexa".
  •  Memasang Alexa Toolbar Di Komputer Anda.Yahhhh.....cara ini juga mendapat nilai lebih dari si tante.Semakin banyak komputer yang menginstall,semakin banyak juga point lebihnya.Anda bisa memasang di komputer sendiri,di kantor atau di warnet-warnet kesayangan Anda.
  • Blog Walking.Dengan blog walking,Anda dapat mempromosikan blog Anda secara gratis.Tentunya Anda harus memberikan jejak blog Anda,cara paling mudah adalah memberikan comment.
  • Berdoa.Dan jangan lupa untuk berdoa,agar blog Anda dikunjungi orang lain.Dan tunggu apa yang terjadi.
[!] Semoga artikel ini dapat membantu Anda untuk membangun blog berkualitas.Dan Majulah Blogger Indonesia...........


*tulisan ini saya curi dari blog sahabat saya nick and nack ,hehe maav ya sob ga ijin..kwakakak.
untuk smuanya komen ya...

Kamis, 04 Maret 2010

Dampak Negatif FB bagi Remaja, Pelajar, dan Anak-anak


Setelah iseng mampir ke kediaman pakde Google, saya menemukan tulisan yang mengulas dampak negatif facebook pada remaja, pelajar dan anak anak yang makin hari semakin terasa meski pun kamu dan saya yang suka sekali "facebookan" banyak yang tidak menyadari akan pengaruh negatif facebook ini. Mungkin karena sudah kecanduan dengan yang namanya facebook. Tapi justru inilah yang berbahaya, yang tidak disadari. Oke buat kamu para remaja dan pelajar serta anak anak, kamu harus tahu apa saja dampak negatif dari facebook ini. Karena pengguna facebook di dominasi oleh para remaja usia 14-24 tahun sebanyak 61,1%.

1. Autis membayangi kita
"Autis" adalah istilah untuk orang orang yang terlalu asyik dengan dunia yang diciptakannya sendiri sehingga tidak peduli dengan orang-orang disekitarnya. Hal ini sering dilakukan orang yang kecanduan Facebook. Tidak peduli dengan lingkungan sekitar, dunianya berubah menjadi dunia facebook. Tentu yang dimaksud autis di sini bukan dalam arti yang sebenarnya.
2. Minimnya sosialisasi dengan lingkungan
Ini dampak dari terlalu sering dan terlalu lama bermain facebook. Ini cukup mengkhawatirkan bagi perkembangan kehidupan sosial si anak. Mereka yang seharusnya belajar sosialisai dengan lingkungan justru lebih banyak menghabiskan waktu lebih banyak di dunia maya bersama teman teman facebooknya yang rata rata membahas sesuatu yang nggak penting. Akibatnya kemampuan verbal si anak menurun.
3. Boros
Akses internet untuk membuka facebook jelas berpengaruh terhadap kondisi keuangan (terlebih kalau akses dari warnet). Dan biaya internet di Indonesia yang cenderung masih mahal bila dibanding negara negara lain (mereka sudah banyak yg garatis). Ini sudah bisa dikategorikan sebagai pemborosan, karena tidak produktif. Lain soal jika mereka menggunakannya untuk kepentingan bisnis.
4. Mengganggu kesehatan
Terlalu banyak nongkrong di depan monitor tanpa melakukan kegiatan apa pun, tidak pernah olah raga sangat beresiko bagi kesehatan. Penyakit akan mudah datang. Telat makan dan tidur tidak teratur. Obesitas (kegemukan), penyakit lambung (pencernaan), dan penyakit mata adalah gangguan kesehatan yang paling mungkin terjadi.
5. Waktu belajar berkurang
Ini sudah jelas, terlalu lama bermain facebook akan mengurangi jatah waktu belajar si anak sebagai pelajar. Bahkan ada beberapa yang masih asyik bermain facebook saat di sekolah. Ayo ngaku..! "sorry yaw, aQ off dulu, Coz, ada guru nieh..!" Pernah menemukan yang seperti itu..?
6. Kurangnya perhatian untuk keluarga
Keluarga di rumah adalah nomor satu. Slogan tersebut tidak lagi berlaku bagi para facebookers. Buat mereka temen temen di facebook adalah nomor satu. Tidak jarang perhatian mereka terhadap keluarga menjadi berkurang.
7. Tersebarnya data pribadi
Beberapa facebookers memberikan data data mengenai dirinya dengan sangat detail. Biasanya ini untuk orang yang baru kenal internet hanya sebatas facebook saja. Mereka tidak tahu resikonya menyebarkan data pribadi di internet. Ingat data data di internet mudah sekali bocor, apalagi facebook yang gampang sekali di hack!
8. Mudah menemukan sesuatu berbau pornografi dan sex
Mudah sekali bagi para facebookers menemukan sesuatu yang berbau porno dan esex esex. Karena kedua hal itu yang paling banyak dicari di internet dan juga paling mudah ditemukan. nah, inilah fakta tidak dewasanya pengguna intenet Indonesia. Hanya mengguankan internet untuk mencari konten "berlendir". Di facebook akan sangat mudah menemukan grup sex, grup tante kesepian, grup cewek bispak dsb.
9. Rawan terjadinya perselisihan
Tidak adanya kontrol dari pengelola facebook terhadap para anggotanya dan ketidakdewasaan pengguna facebook itu sendiri membuat pergesekan antar facebookers sering sekali terjadi.
10. Rawan penipuan
Facebook juga rawan terhadap penipuan seperti media media lainnya, Apalagi bagi anak anak yang kurang mengerti tentang seluk beluk dunia internet. Bagi si penipu sendiri, kondisi dunia maya yang serba anonim jelas sangat menguntungkan. Belakangan penipuan via facebook kian merajalela.
Setelah kamu tahu dampak negatif facebook, nggak salah dong, untuk lebih berhati hati dan menggunakannya secara wajar!!
Meskipun Facebook menimbulkan banyak dampak negatif, tapi semuanya kembali lagi pada kita yang menggunakan Facebook itu sendiri.