Powered By

Free XML Skins for Blogger

Powered by Blogger

Jumat, 04 Maret 2011

Inilah Suporter Fanatik Sepak Bola di Pulau Jawa


BONEK




Istilah Bonek, akronim bahasa Jawa dari Bondho Nekat (modal nekat), biasanya ditujukan kepada sekelompok pendukung atau suporter kesebelasan Persebaya Surabaya, Istilah bonek pertama kali dimunculkan oleh Harian Pagi Jawa Pos tahun 1989 untuk menggambarkan fenomena suporter Persebaya yang berbondong-bondong ke Jakarta dalam jumlah besar. Secara tradisional, Bonek adalah suporter pertama di Indonesia yang mentradisikan away supporters (pendukung sepak bola yang mengiringi tim pujannya bertandang ke kota lain) seperti di Eropa. Berawal dari sebutan populer untuk suporter Persebaya (kala itu "Green Force").


AREMANIA





Arema Indonesia adalah sebuah klub sepak bola yang berada di Kota Malang, Jawa Timur, Arema berdiri pada Agustus 1987. Arema mempunyai julukan "Singo Edan" . Mereka bermain di Stadion Kanjuruhan dan Stadion Gajayana. Pada waktu itu Liga Indonesia dibagi dua: Liga tim semi-profesional bernama Galatama dan Liga Perserikatan. Sekitar pertengahan tahun 1990-an istilah Aremania mulai dipakai sebagai nama suporter Arema. Sementara itu geng-geng di Malang mulai luntur. Selama Ligina VIII di stadion Gajayana tidak ada masalah yang lebih serius dari lemparan botol plastik.. Sudah begitu aman bagi suporter perempuan untuk hadir. Lagipula mereka berkumpul atas nama Aremanita. Aremanita berusaha untuk menghapus tanggapan negatif terhadap suporter perempuan di Malang.



VIKING




Nama VIKING diambil dari nama sebuah suku bangsa yang mendiami kawasan Skandinavia di Eropa Utara. Suku bangsa tersebut terkenal memiliki karakter yang Keras, Gigih, Solid, Militan, Patriotis, Berani, tak kenal menyerah dan berjiwa Penakluk serta senang berpetualang. Semangat dan karakter seperti itulah yang dicoba untuk mendasari semangat dan karakter para Bobotoh Persib, karena dengan semangat dan karakter seperti itu Totalitas dari para Bobotoh Persib akan terus berkibar Selamanya, dan itu sangat diperlukan dalam menjaga kehormatan Persib "Maung" Bandung.


THE JAK MANIA





The Jakmania adalah kelompok pendukung / supporter kesebelasan sepak bola Persija Jakarta yang berdiri sejak Ligina IV, tepatnya 19 Desember 1997. Markas dan sekretariat The Jakmania berada di Stadion Lebak Bulus. Setiap Selasa dan Jumat merupakan rutinitas The Jakmania baik itu pengurus maupun anggota untuk melakukan kegiatan berkumpul bersama membahas perkembangan The Jakmania serta laporan-laporan dari setiap bidang kepengurusan. Tidak lupa juga melakukan pendaftaran bagi anggota baru dalam rutinitas tersebut.


PANSER BIRU




Kelahiran Panser Biru pada 25 Maret 2001 lalu melalui proses yang panjang. Ketika PSIS menjadi juara di Liga Indoensia V, sebenarnya sudah banyak suporter Semarang dan sekitarnya yang setia mendukung Mahesa Jenar, namun saat itu belum terkoordinasi.
Seiring dengan terdegradasinya PSIS ke Divisi I, beberapa suporter berkeinginan membentuk suatu organisasi suporter pertama di Semarang yang terkoordinasi baik dan rapi. Karenanya 22 Oktober 2000 di Gedung Berlian, berkumpulah sekitar 15 suporter fanatik.
Akhirnya disepakati pada hari itu juga dibentuk Forum Peduli PSIS Semarang. Mereka kemudian melanjutkan dengan pertemuan pada 29 Oktober 2000 yang dihadiri sekitar 35 orang. Hingga pada akhirnya pada 5 November 2000 bertempat di GOR Trilomba Juang, terbentuklah nama Panser Biru yang berarti Pasukan Suporter Semarang Biru.


LA MANIA




Suporter setia PERSELA Lamongan Tepatnya LA Mania berdiri tanggal 28 Januari 2001.LA-Mania meraih penghargaan sebagai Suporter paling Fair Play di Liga Super Indonesia musim 2008-2009, khabar menggembirakan ini disampaikan langsung Direktur Kompetisi Badan Liga Indonesia (BLI), Joko Driyono.LA Mania terpilih karena tak pernah menerima sanksi selama kompetisi LSI berputar. Selain itu, tak pernah terjadi bentrokan antara LA Mania dengan suporter lain yang datang ke Lamongan karena memang LA-Mania sangat Cinta Damai.

PASOEPATI



Pasoepati adalah nama sebuah kelompok suporter sepak bola yang berasal dari kota Solo. Terbentuknya Pasoepati tidak terlepas dengan kehadiran klub sepak bola Pelita Jaya yang pernah berkandang di stadion Manahan tahun 2000 lalu. Sembilan Februari 2000 lahirlah kelompok suporter Pelita, bernama Pasukan Soeporter Pelita Sejati atau yang disingkat dengan sebutan Pasoepati.
Dalam perjalanan Pasoepati yang sudah berumur 10 tahun ini, Pasoepati tercatat sudah memberikan dukungannya kepada tiga klub yang pernah ada di kota Solo. Diawali di tahun 2000 dengan kehadiran Pelita Jaya yang kemudian menjadi cikal bakal terbentuknya Pasoepati.
Meski berasal dari kota Solo, namun Pasoepati juga mendapatkan dukungan dari masyarakat luas di kabupaten Klaten, Boyolali, Sukoharjo, Sragen, Karanganyar dan Wonogiri. Dukungan luas dari berbagai daerah menjadikan Pasoepati sebagai salah satu kelompok suporter terbesar di Indonesia. Pasoepati telah berhasil menjadi wadah pemersatu puluhan ribu warga Solo dan sekitarnya untuk bisa saling bersatu, saling bahu-membahu mendukung sebuah tim sepak bola yang bisa membuat bangga kota Solo tercinta.





Senin, 21 Februari 2011

Pertahankan Tren Positif ini Kawan

Capeknya habis mbolang dari Bali, tapi langsung semangat untuk bikin sebuah tulisan. Kali ini saya akan menceritakan kisah perjalanan saya dan teman-teman Bonek lainnya ke Bali. Sebenarnya saya tidak mempunyai niat berangkat ke Bali untuk mendukung Persebaya karena sebentar lagi saya akan menghadapi Ujian Nasional. Namun teman-teman saya terus merayu saya untuk berangkat, akhirnya saya pun tergoda.


Inilah kisah selengkapnya:


Dalam lawatan ke Pulau Dewata tersebut, selain menggunakan Kereta Api dan 'menggandol' Truk seperti biasanya, Bonek juga menggunakan 47 bus, puluhan mobil pribadi, dan ratusan sepeda motor. Bonek yang dari Surabaya berkumpul di Taman Apsari dan berangkat bersama pada hari Sabtu. Dengan pengawalan dari pihak kepolisian, perjalanan Bonek berlangsung aman dan lancar.


Bonek yang berangkat menggunakan Kereta Api berangkat secara bergelombang di hari Kamis dan Jumat. Selama perjalanan tidak terjadi kerusuhan sebagaimana yang dikhawatirkan. Bahkan Bonek mendapat sambutan dari kelompok suporter setempat dari Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, dan Banyuwangi. Bonek yang berangkat secara liar ini di sweeping di pelabuhan Ketapang dan Gilimanuk. Yang tidak membawa KTP dan uang minimal Rp 100.000 dipulangkan paksa oleh petugas. Sedikitnya sekitar 300 Bonek dipulangkan. Namun mereka pantang menyerah. Ada yang menyamar sebagai penumpang umum, ada pula yang pulang ke Surabaya dan berangkat lagi menaiki Bus di hari berikutnya. Bahkan saya bertemu dengan seorang Bonek yang berangkat secara liar di kapal yang saya tumpangi, "aku wes teko Bali mas, tapi dimulihno maneh, sampek wis ping 3 bolak-balik numpak kapal"( saya sudah sampai Bali mas, tapi dipulangkan lagi, sampai sudah 3 kali bolak-balik naik kapal) ungkapnya kepada saya sambil saya memberinya makan dan rokok.


Di Bali tidak terjadi gesekan antara Bonek dengan warga atau suporter setempat meski di dalam stadion pertandingan berjalan panas. Kesabaran Bonek kembali diuji. Ada oknum penonton, yang diidentifikasi tidak mengenakan atribut suporter tuan rumah (saya lebih suka menyebutnya oknumania), melemparkan benda keras ke arah bangku cadangan dan pemain Persebaya. Namun, Bonek dan suporter Bali menjawab provokasi itu dengan nyanyian bersama " Bali-Bonek kita saudara...Disini Bonek disana Bali dimana-mana kita saudara...", sungguh indah, ditambah lagi dengan Mexican Wave (ombak suporter memutari stadion). Di ujung laga, Persebaya kalah 1-2, namun dua kelompok suporter saling bertukar atribut. Bahkan suporter Bali langsung menggunakan atribut Bonek saat perjalanan pulang.


Keramahan Bonek ini mendapat apresiasi dari pedagang oleh-oleh, warga dan kepolisian. Banyak yang mengatakan Bonek ternyata tidak seperti yang diberitakan di media. semuanya tertib. Sama sekali tidak terlihat gelagak ingin mencuri, membuat onar, atau menjarah.


Semoga tren positif ini bisa dipertahankan..
Semoga tidak ada lagi kerusuhan yang melibatkan Bonek, karena sekecil apapun  kerusuhan itu media pasti akan membesar-besarkannya, mungkin  karena Bonek artis yang punya nilai jual tinggi,hehe..
Jangan terprovokasi oleh 'oknumania' yang ingin merusak citra Bonek..
Teruslah berbenah kawan..
Tak perlu jadi yang terbaik, menjadi yang lebih baik itu sudah cukup..
Salam 1 nyali!!
Wani!!
Bernyali tanpa anarki..

Rabu, 16 Februari 2011

Doktrin Sesat Kitab Suci Ahmadiyah

Jemaat Ahmadiyah memiliki kitab suci bernama Tadzkirah. Buku ini berisi mimpi-mimpi dan khayalan Mirza Ghulam Ahmad yang dicatat dan dikumpulkan menjadi buku.

Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah telah mengkaji buku ini dan sepakat menyimpulkan bahwa Ahmadiyah adalah organisasi sesat dan menyesatkan.

Umat Islam Indonesia melakukan penyerangan terhadap komunitas Ahmadiyah di beberapa wilayah dikarenakan fatwa MUI tersebut. Namun tak banyak dari mereka mengetahui apa saja bukti kesesatan Ahmadiyah selain pengakuan memiliki Nabi baru yaitu Mirza Ghulam Ahmad.

Berikut ini adalah beberapa isi Tadzkirah, kitab suci Ahmadiyah yang menunjukkan ajaran kesesatan sebagaimana dikutip dari berbagai sumber:

1. Ahmadiyah menghina Allah, dengan mengaku sebagai anak Allah: "Engkau (Mirza Ghulam Ahmad) di sisi-Ku seperti kedudukan anak-anak-Ku, Engkau dari Aku dan Aku dari Engkau." (Tadzkirah hal 436).

2. Mirza Ghulam Ahmad meyakini menyatu dengan Allah: "Maka Aku melihat bahwa roh-Nya meliputiku dan bersemayam (berada) di badanku dan mengurungku dalam lingkungan keberadaan-Nya, sehingga tidak tersisa dariku satu (atom) pun. Dan aku melihat badanku, ternyata anggota badan-Nya Allah, dan mata-Nya adalah matanya Allah, & lidahnya adalah lidah-Nya pula." (Tadzkirah hal 196).

3. Mirza Ghulam Ahmad mengaku sederajat dgn ke-Esa-an Allah: "Wahai Ahmad-Ku, Engkau adalah tujuan-Ku, kedudukan-Mu di sisi-Ku sederajat dengan ke-Maha-Esaan-Ku, Engkau terhormat pada pandangan-Ku." (Tadzkirah, hal 579).

4. Mirza Ghulam Ahmad mengaku lebih sempurna dari Allah: "Nama Mirza Ghulam Ahmad sangat sempurna, sedang nama Allah tidak sempurna." 

5. Ahmadiyah mengkafirkan umat Islam yang bukan non-Ahmadiyah: "Bahwa Allah telah memberi kabar kepadanya, sesungguhnya orang yang tidak mengikutimu dan tidak berbaiat padamu dan tetap menentang kepadamu, dia itu adalah orang yang durhaka kepada Allah dan rasul-Nya dan termasuk penghuni Neraka jahim”. (Tadzkirah, hal 342).

6. Jemaat Ahmadiyah tak boleh salat dengan non-Ahmadiyah: "Sesungguhnya Allah telah menjelaskan padaku, bahwa setiap orang yang telah sampai padanya dakwahku kemudian dia tidak menerimaku, maka dia bukanlah seorang Muslim dan berhak mendapatkan siksa Allah." (Tadzkirah, hal 600).

7. Ahmadiyah mengklaim Tadzkirah sebagai kitab suci yang paling benar: "Sesungghuhnya kami telah menurunkan kitab suci Tadzkirah ini dekat dengan Qadhian (India). Dan dengan kebenaran kami menurunkannya dan dengan kebenaran dia turun." (Tadzkirah, hal 637).

8. Mirza Ghulam Ahmad mengaku sebagai Rasulullah: "Dan katakanlah, Hai manusia sesungguhnya saya rasul Allah kepa9. Semua manusia harus tunduk kepada Mirza Ghulam Ahmad: "Kami tempatkan manusia di bawah telapak kakimu." (Tazkirah, hal 744).

10. Mirza Ghulam Ahmad adalah utusan Allah: "Hai Ahmad, engkau telah dijadikan utusan-Ku." (Tazkirah, hal 487).

11. Anggota Ahmadiyah akan masuk surga: "Laknat Allah atas orang yang kafir. Diberkahi orang yang bersama-Mu dan orang di sekitar-Mu. (Tazkirah, hal 751).da kamu sekalian." (Tadzkirah, hal 352).


Namun apapun alasannya kekerasan tetap tak dibenarkan, apalagi kekerasan yang mengatasnamakan Agama. Alangkah baiknya jika masalah ini disikapi dengan baik dan bijaksana. Duduk bersama untuk menyelesaikan masalah, bukan malah main hakim sendiri yang akan menimbulkan korban. Semoga tak ada lagi aksi kekerasan di negara ini. Cukup yang lalu biar berlalu dan tak terulang lagi.

Minggu, 13 Februari 2011

Pesan dari Sang Jurnalis

Selamat malam teman-teman blogger. Kali ini saya menemukan sebuah pesan dari seorang Jurnalis untuk Bonek sehubungan keberangkatan Bonek ke Bali untuk menyaksikan pertandingan antara Bali Dewata vs Persebaya 1927 tanggal 20 Februari mendatang. Langsung aja deh saya posting. Berikut surat dari Sang Jurnalis:





Farikhy Achmad 10 Februari jam 2:30 Laporkan
Salam hormat



Sebentar lagi, Bonek akan melakukan tret tet tet ke Bali. Ada dua jalur, dengan bus yang berarti lewat pantura (Pasuruan-Probolinggo-Situbondo-Banyuwangi) dan kereta api yang berarti lewat selatan (Probolinggo-Lumajang-Jember-Banyuwangi)



Sebagai warga Jember dan pecinta sepakbola, saya berharap acara tert -tet tet tetap aman. Saya sebagai pribadi meminta kepada teman-teman Bonek di Surabaya untuk berkoordinasi sebaik mungkin dan saling menjaga.



Sepanjang perjalanan di dua jalur itu, tidak tertutup kemungkinan akan ada provokasi-provokasi terhadap Bonek yang akan membenturkan dengan warga sekitar. Saya meminta agar apapun yang terjadi: JANGAN MEMBALAS... sekali lagi... JANGAN MEMBALAS...



Kenapa permusuhan dengan warga terjadi, karena setelah dilempari, Bonek melakukan aksi balasan. Dan aksi balasan, jelas mengenai warga yang sebenarnya tidak tahu apa-apa, dan ini menimbulkan rentetan balas dendam tak berkesudahan.



Selama ini Jatim wilayah timur jarang sekali menjadi jalur away Bonek. Terakhir, Persebaya di Divisi I tahun 2005 lalu dan berhadapan dengan Persid, Bonek datang ke Notohadinengoro dan semua aman. Tidak ada benturan.



Warga tentu tak ingin ada benturan dengan Bonek. Bonek pun tak perlu berbenturan dengan warga. Patut diketahui, semua daerah yang dilewati Bonek ke Bali (utara dan selatan) masuk dalam daerah basis Bonek. Saya tahu betul, bagaimana komunitas Bonek di sana adalah juga warga asli daerah sekitar.



Bahkan, Bonek dan kelompok suporter setempat bekerjasama dengan baik. Tentu masih ingat kasus Ryan, arek Jember yang Mbonek dan diduga menjadi korban penganiayaan oknum polsuska. Persidmania ikut membantu berjuang bersama-sama menuntut keadilan untuk Ryan.



Jadi, sekali lagi, apapun yang terjadi, JANGAN MEMBALAS. Sudah cukuplah benturan antar warga karena masalah sepakbola.



Di sini, ada temen (tokoh Persidmania). Dengan segala hormat, sebagai sesama kawan, saya meminta bantuan beliau untuk mengoordinasikan kawan-kawan Persidmania agar sama-sama mengamankan tret-tet-tet ke Bali. Insya Allah semua baik-baik saja seperti dulu Bonek pernah ke Jember.



Di sini juga ada pentolan suporter lumajang. Saya juga meminta bantuan kepada beliau agar mungkin menghubungi tokoh suporter PSIL Lumajang dan Bonek Lumajang untuk ikut mengamankan tert-tet itu.



Di sini juga ada wakapolres situbondo, Saya pribadi berharap, waka bisa mengamankan dengan sebaik-baiknya. Saya mohon, jika ada pelaku kerusuhan siapapun itu segera ditangkap saja orangnya. Kita tidak ingin gara-gara ulah satu orang, seluruh komunitas terkena dampaknya. Menonton sepakbola bukanlah kriminal. Tapi melakukan kerusuhan, itu baru kriminal. Saya yakin perusuh adalah perusuh, dan hanya menggunakan sepakbola sebagai dalih.



Semoga semua damai. Demi kita semua. Sudah cukup Indonesia disumpeki dengan kerusuhan agama, jangan disumpeki lagi kerusuhan suporter. Saya jurnalis, saya akan liput apapun, walau itu kerusuhan suporter, walau itu yang melakukan adalah pendukung Persebaya. Tapi dalam hati kecil saya, saya tak ingin ada kerusuhan. Sepakbola lebih indah tanpa kekerasan dan kerusuhan. Cukuplah kasus Lamongan menjadi pelajaran bagi kita..

wassalam





itulah tadi pesan dari sang jurnalis..

semoga bermanfaat bagi kita semua..

salam satu nyali!!!
wani..
bernyali tanpa anarki..

Sabtu, 12 Februari 2011

BONEK : Terdakwa Tanpa Pledoi

Dalam beberapa hari ini Bonek kembali menjadi sorotan di hampir seluruh media informasi, mulai dari media elektronik hingga media cetak. Media tersebut, ramai memberitakan tragedi Lamongan yang ‘katanya’ dipicu oleh Bonek. Yang tentu saja, seluruh masyarakat yang melihat atau membaca berita tersebut, langsung menghakimi Bonek adalah biang kerusuhan.


Saya kira Bonek-pun tidak berkehendak akan timbul tragedi tersebut. Keberangkatan Bonek ke Tangerang murni akan rasa cinta pada Persebaya, Bonek bukanlah suporter yang harus dikoordinir untuk melakukan lawatan away, kecintaan terhadap Persebaya-lah yang mendorong tiap individu itu datang dan akhirnya berkumpul dalam serangkaian kereta menuju Jakarta. Begitu indah, begitu egaliter karena tak ada yang memimpin atau dipimpin, semuanya karena panggilan hati. Apalagi lawatan ke Tangerang sudah cukup lama tidak dilakukan Bonek (Seingat Penulis terakhir tahun 2003), yang membuat ribuan Bonek terkonsentrasi menuju Tangerang. Mungkin kalopun tragedi Lamongan ini terjadi, yang patut diketahui oleh public adalah ini murni dari perseteruan antara LA Mania dan Bonek yang sudah begitu lama terpendam. Bukan Warga melawan Bonek.

Entah siapa yang memulai, faktanya memang telah ada 2 korban dari Suporter LA Mania (bukan warga biasa). Tapi yang patut menjadi catatan adalah hampir setiap tahun dan waktu ketika Bonek mengadakan tour melewati Jalur Utara yang tentu saja melewati Kota Lamongan selalu terjadi sweeping oleh LA Mania pada kereta api yang ditumpangi Bonek, dan kejadian itu terus berulang dari waktu ke waktu. Yang jadi pertanyaan adalah, apa hak LA Mania mensweeping dan menurunkan Bonek yang hendak melakukan tour ke luar kota. Tidak ada bukti jika Bonek yang disweeping dan diturunkan adalah pelaku pengrusakan di Lamongan, jika pun terbukti hal tersebut adalah wewenang dari Kepolisian. Sangat disayangkan Kepolisian pun seakan tutup mata terhadap kejadian tersebut, harusnya jika memang melakukan Razia cukup dari aparat Kepolisian saja tanpa melibatkan warga sipil karena hal tersebut malah berpotensi memicu insiden bentrokan dan kebencian. Jadi semua ini sebenarnya adalah rangkaian peristiwa, yang terus berakumulasi dan puncaknya pada kejadian beberapa hari yang lalu.

Apapun alasannya, sebenarnya aksi kekerasan yang dilakukan oleh Bonek tersebut tidak bisa dibenarkan. Aksi kekerasan tetaplah sebuah tindakan Kriminal yang mempunyai konsekuensi di mata Hukum. Aksi kekerasan hanya menodai upaya keras Bonek untuk mengubah citranya yang negatif selama ini, apalagi media massa begitu sensitif terhadap pemberitaan Bonek. Dan yang dikhawatirkan terjadi, media massa dengan segera memberitakan bahwa Bonek melakukan tindakan brutal dalam perjalanannya menuju Tangerang, tanpa mengindahkan etika jurnalisme yang harusnya melihat dari dua sisi yang berimbang dan tidak bias dalam pemberitaan. Tentu saja dari pemberitaan tersebut, opini public langsung tergiring bahwa Bonek telah berbuat onar di Lamongan, dan hal ini memicu warga yang tak tau apa-apa untuk ikut ‘menyambut’ Bonek yang pulang dari Tangerang.

Dari pemberitaan media massa yang terus menyudutkan Bonek, menjadikan Bonek menjadi terdakwa di Negeri ini, tetapi sayangnya Bonek adalah terdakwa tanpa pledoi. Stigmatisasi negatif masyarakat kepada Bonek semakin menguat.

Tidak bisa dipungkiri, bahwa paradigma masyarakat umumnya menganggap Bonek adalah “Biang Kerusuhan”, hal ini juga tak lepas dari stigmatisasi Media Informasi yang mencitrakan hal tersebut. Memang Bonek pernah berbuat rusuh, tetapi yang perlu diingat adalah kerusuhan dalam sepak bola Indonesia tidak hanya dimonopoli oleh Bonek. Hampir seluruh elemen Suporter di Indonesia pernah berbuat rusuh, bahkan oleh kelompok suporter yang dianggap terbaik sekalipun. Entah itu dalam bentuk terkecil seperti melempar benda-benda keras ke lapangan sampai dengan bentrokan antar suporter yang melibatkan massa dalam jumlah besar. Dan ironisnya, sekecil apapun tindakan bonek, hal ini langsung menjadi santapan empuk media dalam pemberitaan.

Media massa pun sepertinya menikmati nuansa Bonek yang penuh dengan kekerasan daripada melihat Bonek dari sisi yang lebih santun. Kemajuan yang diperlihatkan Bonek dalam pendewasaan kelihatannya tidak menarik bagi media yang memang lebih menyukai berita yang sensasional. “Bad news is good news” tetap menjadi tolok ukur media massa. Spirit sportivitas dan penerimaan terhadap hasil akhir yang ditunjukkan bonek pun tidak menarik bagi media massa. Di musim lalu, dua kali kekalahan di kandang sendiri, dari Persipura Jayapura dan Persik Kediri dan tidak terjadi kerusuhan apapun merupakan kemajuan yang patut dipuji dari Bonek.

Sangat patut disayangkan, stigmatisasi dan kriminalisasi terhadap Bonek yang dilakukan media informasi itulah yang sebenarnya juga semakin memperburuk attitude Bonek. Bagi bonek muda performa penuh kekerasan dan brutalisme dianggap sebagai ‘kebenaran’, dan bagi Bonek senior performa penuh kesantunan yang pernah ditunjukkan seolah lenyap begitu saja oleh pemberitaan media, hingga mereka berpikir berbuat baik atau tidak-pun toh media dan masyarakat tetap mengecap Bonek sebagai “bad boys”. Seolah-olah Bonek memang telah menjadi korban dari sebuah teori strukturalisme yang membutuhkan kelompok berpredikat 'bad boys' (anak nakal) untuk menentukan kelompok berpredikat 'good boys' (anak baik). Dan ironisnya, Bonek-lah yang ketiban sampur untuk diberi predikat sebagai “bad boys”.

Stigmatisasi dari media juga yang membuat banyak Bonek menjadi antipati pada Media. Tapi saya berharap, tak usahlah Bonek memusuhi media, tapi tunjukkan pada semua Media Informasi bahwa Bonek adalah supporter yang santun dan selalu berupaya, mempunyai itikad dan keinginan untuk menjadi lebih baik. Apa yang sudah dicapai, dengan segala kekurangannya. Bonek tak pernah berharap untuk diberi predikat terbaik, menjadi lebih baik itu lebih dari cukup.

Mari jadikan Tragedi ini, sebagai sebuah pembelajaran. Bahwa semangat Bonek yang egaliter, yang datang karena kecintaan terhadap Persebaya ternyata juga mempunyai sedikit kelemahan. Kelemahan itu ada pada koordinasi. Jangan sampai, karena ulah beberapa orang semuanya ikut terlibat dan merasakan getahnya.

Memang sudah saatnya Bonek menata ulang spiritnya, sudah waktunya Bonek menjadi satu entitas tunggal dalam satu payung organisasi. Satu payung lebih mempermudah dalam hal koordinasi, konsolidasi, edukasi, bahkan mungkin advokasi pada Bonek yang tertimpa masalah hukum. Tour away juga lebih bisa tertata, sehingga ekses-ekses negatif yang berpotensi muncul saat tour bisa diminimalisir. Manajemen Klub Persebaya pun harusnya juga mulai perduli dengan supporter, karena bagaimanapun juga baik dan buruknya supporter juga turut berperan dalam baik dan buruknya nama Klub. Suporter adalah spirit, jangan hanya pandang supporter sebagai konsumen belaka, tetapi rangkullah supporter sebagai keluarga.

STOP KEKERASAN DAN DAMAILAH SUPORTER INDONESIA

Jumat, 11 Februari 2011

Surat dari Ayah dan Bundha

Ketika aku sudah tua, bukan lagi aku yang semula. Mengertilah, bersabarlah sedikit terhadap aku.

Ketika pakaianku terciprat sup, ketika aku lupa bagaimana mengikat sepatu, ingatlah bagaimana dahulu aku mengajarmu.

Ketika aku berulang-ulang berkata-kata tentang sesuatu yang telah bosan kau dengar, bersabarlah mendengarkan, jangan memutus pembicaraanku.

Ketika kau kecil, aku selalu harus mengulang cerita yang telah beribu-ribu kali kuceritakan agar kau tidur.

Ketika aku memerlukanmu untuk memandikanku, jangan marah padaku. Ingatkah sewaktu kecil aku harus memakai segala cara untuk membujukmu mandi?

Ketika aku tak paham sedikitpun tentang tehnologi dan hal-hal baru, jangan mengejekku. Pikirkan bagaimana dahulu aku begitu sabar menjawab setiap "mengapa" darimu.

Ketika aku tak dapat berjalan, ulurkan tanganmu yang masih kuat untuk memapahku. Seperti aku memapahmu saat kau belajar berjalan waktu masih kecil.

Ketika aku seketika melupakan pembicaraan kita, berilah aku waktu untuk mengingat. Sebenarnya bagiku, apa yang dibicarakan tidaklah penting, asalkan kau disamping mendengarkan, aku sudah sangat puas.

Ketika kau memandang aku yang mulai menua, janganlah berduka. Mengertilah aku, dukung aku, seperti aku menghadapimu ketika kamu mulai belajar menjalani kehidupan. Waktu itu aku memberi petunjuk bagaimana menjalani kehidupan ini, sekarang temani aku menjalankan sisa hidupku.

Beri aku cintamu dan kesabaran, aku akan memberikan senyum penuh rasa syukur, dalam senyum ini terdapat cintaku yang tak terhingga untukmu.

From ayah dan bundha..

Sabtu, 01 Januari 2011

Foto-foto

huaahh lama sekali aku tidak membuka blog ini. Rasanya jadi kangen dengan teman-teman blogger. Maaf ya teman-teman kalau saya belum sempat kunjungan balik, habis sibuk sih beberapa bulan ini. Kali ini aku mau pajang foto-foto aku dan teman2ku saat mbolang ke jakarta beberapa waktu lalu aja deh...












Dari beberapa foto diatas bisa dilihat betapa indahnya perdamaian. ya memang selama  aku menjadi Bonek baru kali ini aku merasakan betapa indahnya perdamaian. Biasanya ketika Bonek melintasi kota Solo, suporter Solo (Pasoepati) selalu melempari bonek, namun kali ini Bonek dan Pasoepati justru terlihat akur mendukung timnas Indonesia. Begitu juga dengan The Jak. Memang semua begitu terasa indah jika semua suporter berdamai....